Surja Wahjudianto

Buat Presentasi Anda Lebih Didengar

6 Pro Kontra dalam Public Speaking yang Harus Anda Ketahui – Yang Nomor 4 Mengejutkan Banyak Orang

Pasti Anda familiar dengan nasehat untuk minum air putih sebanyak 2 liter setiap hari. Kita dianjurkan untuk melakukannya demi menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh dan menjamin fungsi metabolisme sel tubuh tetap berjalan.

Tapi tahukah Anda bahwa sebagian pakar kesehatan mengatakan bahwa nasehat itu salah besar?

Mereka mengatakan keharusan minum 2 liter air per hari itu hanyalah mitos, karena tidak didukung dengan riset yang valid. Lebih lanjut mereka mengungkap bahwa, dengan aktivitas normal, tubuh kita tidak butuh air sebanyak itu. Semakin banyak air yang kita konsumsi, semakin berat ginjal kita bekerja. Hal ini karena air tidak hanya sekedar lewat saja di ginjal, melainkan harus diproses. Kalau ginjal dipaksa bekerja keras terus menerus dampaknya justru buruk buat kesehatan, bukannya menyehatkan. 

Perbedaan pendapat seperti ini tentu membingungkan orang awam bukan? Orang jadi ragu yang mana yang benar dan mesti diikuti dan yang mana yang tidak.

Kalau kita cermati, anjuran-anjuran yang bertentangan seperti ini kerap terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Misalnya, dari kecil kita diajari bahwa makan buah itu semestinya setelah makan. Tetapi belakangan muncul pendapat yang menyatakan bahwa makan buah itu seharusnya sebelum makan. Contoh lainnya lagi, umum diketahui bahwa mandi di malam hari itu tidak baik bagi kesehatan karena bisa menyebabkan rematik. Kini pendapat itu dibantah karena sebetulnya mandi malam hari bukanlah penyebab orang menjadi sakit rematik. Dan kalau mau diteruskan, daftar pro-kontra ini akan panjang sekali.

Ternyata dalam bidang public speaking pun ada pendapat-pendapat yang berbeda satu-sama lainnya. Satu pakar mengatakan kita harus melakukan A, sementara pakar lainnya mengharuskan B. Hal ini tentu membingungkan bagi orang awam atau orang yang baru mempelajari public speaking.

Dalam sesi-sesi pelatihan saya, banyak pertanyaan yang diajukan juga seputar pro-kontra ini. Para penanya kerap kali bingung mana yang benar dan mesti diikuti.

Nah, agar Anda tidak ikut-ikutan bingung juga, berikut 6 pro-kontra dalam public speaking yang kerap dijumpai. Di bawah masing-masing pro-kontra ini saya berikan saran-saran saya yang sebaiknya Anda lakukan untuk meredakan kebingungan Anda.

1. Berlatih di depan cermin vs. Jangan berlatih di depan cermin

Yang pro mengatakan bahwa dengan berlatih di depan cermin Anda bisa melihat sendiri bagaimana Anda dilihat oleh audiens. Raut muka, kontak mata, gerakan tangan, dan postur tubuh Anda. Dengan demikian Anda bisa melakukan koreksi apabila ada gerakan atau ekspresi yang salah atau kurang tepat.

Yang kontra beralasan bahwa berlatih di depan cermin membingungkan. Kita tidak melihat diri kita sendiri saat membawakan presentasi, tapi melihat dan menghadap audiens. Akan lebih baik kalau berlatih dengan menghadap sesuatu yang lain dan membayangkannya seolah-olah sedang berhadapan dengan audiens.

Saran saya: Menggunakan cermin tetap perlu, tapi sesekali  saja. Gunakan, misalnya, untuk memastikan apakah Anda sudah menyunggingkan senyum dan menampilkan wajah yang ramah atau tidak. Juga untuk mengetahui apakah gerakan tangan Anda natural atau justru berlebihan.

Selebihnya gunakan sebagian besar waktu Anda untuk berlatih dengan menghadap sesuatu yang menyerupai audiens (misalnya meja dan kursi di rumah) dan visualisasikan bahwa Anda sedang menghadap dan berbicara kepada audiens. Ini membantu Anda beradaptasi dan menguasai keadaan saat nanti benar-benar berada di atas panggung.

2. Tulis skrip presentasi secara lengkap vs. Jangan tulis skrip presentasi secara lengkap

Bagi yang pro, menulis skrip presentasi secara lengkap membantu Anda menyusun kata-kata dengan lebih baik dan rapi. Dengan susunan kata-kata yang baik dan rapi penyampaian maksud Anda jadi lebih akurat. Menulis skrip juga membantu Anda memastikan bahwa pesan yang Anda sampaikan konsisten di semua bagian, dari awal sampai akhir.

Yang kontra khawatir dengan menulis skrip Anda jadi cenderung menghafal kata demi kata. Menghafal kata demi kata ini sangat berbahaya karena Anda bisa lupa dan berhenti di tengah-tengah jalannya presentasi.

Saran saya: Jika Anda termasuk orang yang bisa mengungkapkan gagasan secara spontan, lupakan langkah menulis skrip ini. Anda cukup menuliskan poin-poin pentingnya saja dan mengembangkannya melalui improvisasi.

Namun, jika Anda kurang bisa menyusun dan menyampaikan  gagasan dengan baik secara spontan, Anda wajib menulis skrip presentasi Anda, dari awal hingga akhir. Meskipun dalam penyampaiannya Anda tidak boleh menghafalkan skrip tersebut kata demi kata karena berisiko membuat Anda stuck.

3. Tentukan gerakan tangan dan langkah  vs. Biarkan gerakan tangan dan langkah mengalir alami

Gerakan tangan dan langkah yang diatur membantu Anda menekankan pesan-pesan penting tertentu, kata yang pro. Dengan mengaturnya Anda bisa lebih menyakinkan dalam menyampaikan pesan Anda dan memberi efek emosi yang dalam kepada audiens.

Yang kontra beralasan bahwa mengatur gerakan tangan dan langkah membuat Anda jadi tampak tidak alami dan kaku. Hal ini malah memberi efek buruk bagi kualitas presentasi Anda.

Saran saya: Meski saya condong ke gerakan yang alami, saya juga setuju bahwa beberapa gerakan mesti dikontrol. Misalnya, kerap terjadi pembicara yang terlalu sering melangkah dari kanan ke kiri dan dari kiri ke kanan, tanpa dia sadari. Bolak balik dan terus menerus, seperti harimau yang sedang gelisah di dalam kandang. Gerakan repetitif ini sebetulnya malah menjadi gangguan alih-alih bantuan.

Untuk mengatasinya Anda mesti ingat aturan move with purpose, bergeraklah dengan tujuan. Bergeraklah ke kanan bila memang Anda perlu untuk bergerak ke kanan dan bergeraklah ke kiri bila Anda merasa memerlukannya. Walau ada kalanya Anda tetap akan bergerak ke kanan dan ke kiri tanpa tujuan, pastikan Anda tidak melakukannya dengan tempo yang terlalu cepat.

4. Boleh menyampaikan presentasi lebih lama vs. Jangan menyampaikan presentasi lebih lama

Yang pro berargumen bahwa menyampaikan presentasi lebih lama dari semestinya itu baik. Hal ini seperti memberi bonus kepada audiens. Mereka menganalogikan dengan konsumen yang membayar untuk 1 barang tetapi kita beri 2 barang. Tentu konsumen tersebut jadi gembira.

Yang kontra mengatakan bahwa memperlama waktu presentasi membuatnya jadi membosankan. Disamping itu ia juga memberi kesan di mata audiens bahwa manajemen waktu Anda buruk. Memperlama waktu presentasi juga menimbulkan anggapan bahwa Anda tidak menghargai waktu audiens karena mereka juga ada urusan lain yang mesti dikerjakan.

Saran saya: Anda harus selalu ingat bahwa hal yang paling disukai audiens dari suatu presentasi adalah ketika presentasi itu usai. Ini terdengar lucu dan menggelikan, tetapi ini benar adanya. Kalau tidak percaya, lain kali ketika Anda duduk di bangku audiens dan mendengar pembicara yang mengulur-ulur waktu presentasinya, cermati perasaan Anda. Pasti Anda merasa bosan, bukan? Jadi, menyampaikan presentasi lebih lama dari waktu yang ditentukan adalah ide yang buruk.

Simak penjelasan lengkapnya di artikel berikut ini:

(Ternyata Ini Hal yang Paling Disukai Audiens dari Suatu Presentasi)

5. Ucapkan terima kasih vs. Jangan mengucapkan terima kasih saat membuka dan menutup presentasi

Yang kontra ucapan terima kasih berpendapat bahwa ucapan terima kasih membuat presentasi menjadi bertele-tele. Apalagi jika pembicara menyebut satu-persatu orang-orang penting yang hadir. Ucapan terima kasih seringkali juga disampaikan dengan kata-kata dan nada yang mudah ditebak sehingga terdengar membosankan.

Yang pro ucapan terima kasih berpendapat bahwa ini adalah soal etika dan tata krama. Dengan mengucapkan terima kasih Anda mengungkapkan bahwa Anda menghargai semua pihak yang telah membantu terlaksananya acara tersebut. Anda juga menghargai kehadiran dan perhatian hadirin di acara tersebut.

Saran saya: Sah-sah saja mengucapkan terima kasih sebagai bentuk apresiasi. Namun sampaikan ucapan terima kasih ini dengan singkat dan tidak bertele-tele. Akan tetapi, di forum-forum tertentu yang memang tidak memerlukan adanya ucapan terima kasih maka hindari melakukannya.  

6. Bawa catatan vs. Jangan membawa catatan saat menyampaikan presentasi

Membawa catatan bisa menyelamatkan Anda dari rasa malu akibat lupa di tengah jalannya presentasi, menurut yang pro. Membawa catatan ibarat memiliki polis asuransi yang menjamin kelangsungan dan kelancaran presentasi Anda. Jaminan ini membantu Anda memiliki rasa percaya diri yang lebih kuat.

Yang kontra berpendapat bahwa membawa catatan menandakan Anda kurang siap dan terkesan tidak profesional. Catatan juga membuat Anda tidak fokus kepada audiens. Di samping itu, catatan membuat frekuensi kontak mata Anda dengan audiens jadi berkurang yang menyebabkan hubungan Anda dengan audiens jadi kurang kuat.

Saran saya: Bawa catatan kalau Anda memang merasa memerlukannya. Yang paling tahu kebutuhan Anda adalah Anda sendiri. Apalagi kalau catatan itu memberi Anda rasa aman dan menambah percaya diri. Tetapi, agar Anda tidak terlalu tergantung dan sebentar-sebentar melihat catatan, berlatihlah sering-sering sebelumnya.

Itulah 6 pro-kontra dalam public speaking yang kerap dijumpai di luar sana. Semoga setelah pembahasan ini Anda tidak lagi bingung yang mana yang mesti diikuti dan yang mana mesti diabaikan.

Selamat mengejutkan diri Anda sendiri dengan kualitas presentasi Anda yang meningkat pesat.

Apakah Anda ingin mendapatkan update terbaru mengenai artikel-artikel saya? Silakan isi nama dan alamat email Anda di kolom-kolom berikut ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *