Surja Wahjudianto

Buat Presentasi Anda Lebih Didengar

Inilah Kejadian Menyeramkan yang Pernah Terjadi Pada Saya – Apa Pelajaran yang Bisa Kita Ambil Darinya?

Ini kisah nyata.

Kejadian yang membuat bulu kuduk berdiri ini terjadi saat saya masih SMA. Saat itu hampir tengah malam dan saya sedang sendirian di kamar saya. Bapak, ibu, dan adik-adik saya telah tidur di kamar yang lain. Suasana sunyi senyap, sampai-sampai suara detak jam dinding pun bisa terdengar jelas.

 

Tiba-tiba terdengar suara. Jrengg! Gitar yang saya sandarkan di pojok ruangan berbunyi sendiri. Cukup pelan, tapi terdengar jelas. Dan itu mengejutkan dan menakutkan saya.

Bagaimana bisa gitar yang tersandar di dinding ruangan bunyi sendiri? Tidak ada orang lain. Tidak ada adik-adik saya, tidak ada teman-teman saya. Yang biasanya masuk kamar saya adalah adik-adik saya atau teman-teman saya. Tapi kali itu tidak ada mereka. Tidak ada siapa-siapa. Lalu siapa?

Saya sedang diganggu, pikiran jelek saya menyimpulkan. Belum pernah seumur-umur saya diganggu makhluk halus. Tapi kali itu saya akhirnya mendapat ‘kesempatan’ juga.

Meski begitu saya beranikan diri untuk melihat dan mendekati gitar di pojok kamar itu. Saya siap untuk menyaksikan sendiri kalau-kalau gitar itu akan berbunyi lagi, atau malah bergerak-gerak sendiri. Atau melakukan hal-hal lain yang menakutkan. Saya siap.

Saya mendekat dengan pelan, sambil tetap waspada. Saat saya makin dekat, akhirnya saya benar-benar melihat makhluk itu. Dan makhluk itu tidak lain adalah… seekor laba-laba! Laba-laba biasa, bukan laba-laba gaib atau jadi-jadian.

Ya, rupanya laba-laba itulah yang ‘memainkan’ gitar saya tersebut. Laba-laba itu berjalan melintasi senar-senar gitar yang mengakibatkan gitar itu (seolah-olah) berbunyi sendiri. Jrengg!”

***

Oke, sudah dulu ceritanya. Mari kembali ke ‘alam nyata’. Saya tak hendak menakuti Anda atau mengelabuhi Anda. Tapi itu sungguh-sungguh terjadi.

Apa yang saya ingin Anda pelajari dari cerita ini?

Baik, karena blog saya ini mengenai presentasi, tentu saja saya akan kaitkan cerita di atas dengan pembahasan mengenai presentasi.

Sekarang bayangkan seandainya Anda duduk di bangku audiens dan mendengar cerita di atas. Bagaimana perasaan Anda? Pasti Anda tertarik untuk terus mengikuti, bukan? Hal ini karena cerita selalu menarik untuk terus diikuti.

Namun, cerita hanyalah sekedar cerita jika tidak diberi ‘label’. ‘Label’ disini adalah pesan moral yang ‘menempel’ pada cerita tersebut. Ini yang membuat cerita jadi lebih bermakna dan lebih diingat audiens. Tanpa ‘label’ pesan moral dari sebuah cerita jadi tersamar, tidak menonjol dan kurang kuat.

Satu cerita bisa saja diberi beberapa label, tetapi tentu mesti disesuaikan dengan topik dan tujuan presentasi kita. Cerita saya di atas bisa saja diberi label-label seperti berikut ini:

1. Jangan mudah berprasangka buruk”

2. “Jangan terlalu cepat menyimpulkan suatu kejadian”

3. “Persepsi seringkali mengelabuhi”

4. “Jangan mudah percaya tahayul” dsb.

Misalkan Anda memilih ‘jangan mudah berprasangka buruk’ dan Anda mau menekankan pesan ini kepada audiens. Agar lebih bisa diingat dan masuk di benak audiens label ini mesti diulang-ulang. Semakin sering diulang, semakin baik. Namun tentu tetap disesuaikan dengan jalannya keseluruhan presentasi.

Ada tahapan untuk menyampaikan label kepada audiens, yaitu: (1) sampaikan label sebelum cerita; (2) sampaikan ceritanya; (3) sampaikan label setelah cerita.

1. Label sebelum cerita

Katakan seperti ini: “Jangan mudah berprasangka buruk. Apa yang Anda sangka belum tentu sesuai dengan faktanya.”

Ini pertama kali Anda menanamkan pesan “jangan berprasangka buruk” di benak audiens.

2. Sampaikan ceritanya

Setelah Anda sampaikan labelnya, sampaikan ceritanya: “Kejadian yang membuat bulu kuduk berdiri ini terjadi saat saya masih SMA…” dan seterusnya sampai selesai.

Cerita ini membuat audiens lebih tertarik mendengarkan presentasi Anda dan membuat pesan Anda lebih mengena.

3. Label setelah cerita

Setelah Anda ceritakan kisahnya, sampaikan labelnya lagi. Katakan seperti ini: Saya menyampaikan cerita di atas karena saya ingin mengingatkan kita semua bahwa janganlah mudah berprasangka buruk atas kejadian yang terjadi kepada kita. Apa yang kita sangka belum tentu seperti itu adanya. Mari kita senantiasa berpikir yang baik-baik untuk mendatangkan hal-hal yang baik-baik juga dalam hidup kita.”

Dengan menyampaikan cerita presentasi Anda jadi jauh lebih menarik. Dengan memasang ‘label’ cerita Anda jadi lebih bermakna dan mengandung pesan yang jelas. Dengan melakukan kedua hal itu presentasi Anda jadi jauh lebih berkualitas dan lebih diingat oleh audiens.

Selamat bercerita dan memberi ‘label’. Jrengg!

1 comment on “Inilah Kejadian Menyeramkan yang Pernah Terjadi Pada Saya – Apa Pelajaran yang Bisa Kita Ambil Darinya?

  1. Moco iki pas lampu nang omah mati .. tambah ngejreeeeeng … (ini juga kisah nyata, sekarang benar2 mati listrik) 🙁

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *