Surja Wahjudianto

Buat Presentasi Anda Lebih Didengar

Dulu Saya Takut Ketika Berbicara di depan Umum – Bagaimana Saya Bisa Berubah?

Dulu saya takut sekali dengan yang namanya berbicara di depan umum. Jangankan membawakan presentasi, memberikan pendapat dalam forum diskusi saja membuat saya ngeri setengah mati.

Saat SMA saya nyaris tidak pernah terlibat dalam forum diskusi. Satu-satunya keikutsertaan saya dalam forum diskusi adalah saat saya kelas 1 SMA. Dan itu pun berakhir dengan memalukan dan memilukan.

Saat itu adalah pelajaran dimana Bu Gurunya menggelar diskusi, dan diskusi itu dinilai. Mereka yang memberikan pendapatnya dalam diskusi tersebut mendapat nilai. Sedangkan mereka yang tidak memberikan pendapatnya tentu saja tidak mendapat nilai.

Setelah beberapa kali pertemuan rupaya masih ada beberapa siswa yang belum memberikan pendapatnya atau berpartisipasi dalam diskusi tersebut. Akhirya Bu Guru mengingatkan: “Bagi kalian yang belum berpartisipasi saya harap bisa berpartisipasi sekarang. Karena kalau tidak kalian tidak akan dapat nilai untuk kegiatan ini.”

Kemudian Bu Guru menyebut satu per satu nama siswa-siswi yang belum berpartisipasi tersebut. Ada si A, si B, si C, dll, dan salah satunya adalah Surja Wahjudianto, saya!

Merasa dalam kondisi ‘terancam’, saya terpaksa memutuskan untuk ambil bagian. Membuat keputusan ini saja sudah membuat saya deg-degan, grogi setengah mati.

Saat menunggu kesempatan untuk berbicara saja jantung saya sudah berdebar-debar kencang. Begitu melihat ada kesempatan untuk memberikan pendapat saya langusng memberanikan diri untuk mengangkat tangan. Bu Guru yang melihat saya mengangkat tangan mempersilakan saya berbicara (seingat saya diskusi itu dimoderatori sendiri oleh ibu guru). Saya pun berdiri.

Saat itulah drama dimulai. Saat saya berdiri dan siap mengutarakan pendapat, ketegangan saya makin menjadi-jadi. Saya merasakan lutut saya gemetar. Benar-benar bergetar. Sebelumnya saya hanya pernah mendengar kalau orang sedang ketakutan itu lututnya bisa sampai gemetar. Tapi kali itu saya benar-benar mengalaminya sendiri.

Tidak hanya lutut, tangan saya pun gemetar. Dan gemetarnya tangan saya itu sampai kelihatan jelas. Bahkan ketika saya mencoba meredam ketegangan dengan menyandarkan tangan saya ke meja, mejanya pun ikut bergetar. Sampai-sampai teman sebangku saya dengan bercanda bilang, “Wuih, ada gempa, rek. Ada gempa!”

Dramanya tidak berakhir sampai di situ. Saat saya mulai berbicara suara saya parau karena nervous, persis seperti suara orang yang sedang mengalami sakit tenggorokan parah. Kalau kaki gemetar dan tangan gemetar mungkin hanya teman sebangku yang tahu. Tapi kalau suara yang parau karena nervous, seluruh isi kelas jadi tahu. Saya sungguh malu.

Dalam keadaan seperti itu saya jadi sulit untuk berbicara dengan baik. Gagasan yang ingin saya sampaikan jadi buyar. Pembicaraan saya pun jadi berputar-putar. Saya berbicara tak tentu arah.

Seluruh kelas sampai terdiam. Hening. Bukan karena mereka terpesona, tapi karena mereka kasihan melihat saya.

Ketika saya kembali duduk, saya merasakan punggung saya basah kuyup, persis seperti baru disiram air. Saya kapok, saya jera. Sejak saat itu hingga saat saya lulus SMA saya tidak pernah lagi mau terlibat dalam forum diskusi, apalagi presentasi!

Bagaimana saya berubah?

Pasti sulit untuk bisa berubah dari sesuatu yang secara emosi sangat kuat. Sama halnya dengan orang yang sudah ketagihan merokok mau berhenti merokok. Harus ada alasan yang secara emosi jauh lebih kuat daripada kondisi emosi yang telah ada. Dengan pengalaman saya yang gagal total saat ambil bagian di forum diskusi saat SMA itu tentu sangat sulit bagi saya untuk bangkit dan berubah.

Awal saya mau berubah adalah saat saya kuliah di semester 3. Pemicunya karena saya iri dengan beberapa teman satu angkatan saya. Itu ketika saya melihat mereka menjadi pemandu dalam pelatihan manajemen dan kepemimpinan untuk adik-adik mahasiswa baru. Ada yang jadi MC, ada yang jadi moderator atau menjadi fasilitator. Saya perhatikan mereka bisa berdiri dan berbicara dengan percaya diri di hadapan para peserta. Dalam pandangan saya mereka begitu mengesankan, penuh kharisma, dan penuh pesona.

Saya iri, saya ingin seperti mereka. Dalam bayangan saya, kalau saja saya bisa melakukan hal yang sama tentu saya bisa tampil di hadapan adik-adik kelas. Saya bisa ‘tebar pesona’ di depan cewek-cewek mahasiswa baru. Tapi apa daya, saya tak kuasa.

Tahu kan, bagi laki-laki keinginan untuk memikat hati wanita itu sungguh kuat. Nah, bagi saya menjadi laki-laki sejati itu adalah dengan berani tampil di depan publik. Itulah dorongan terbesar saya untuk berubah. Saya bertekad di tahun berikutnya saya harus bisa menjadi pemandu dalam kegiatan pelatihan untuk adik-adik mahasiswa baru.

Karena itulah saya melakukan hal-hal berikut:

1. Mulai dari yang kecil

A journey of a thousand miles starts with a single step.”

Sebuah perjalanan sejauh satu mil diawali dengan langkah pertama. Untuk bisa tampil dengan percaya diri di depan audiens tentu tidak bisa sekaligus saya lakukan. Saya mengawali dengan sebuah langkah kecil.

Saat itu saya memutuskan ketika menghadiri kuliah saya berusaha untuk bertanya, yang sebelumnya tidak berani dan tidak pernah saya lakukan. Pertanyaan yang sederhana saja. Misalnya: “Pak Dosen, yang dimaksud A itu apa, Pak?” Atau: “Bu Dosen, B itu apa, Bu?”

Kelihatannya sederhana. Tapi bagi saya yang punya pengalaman buruk dalam berbicara di dalam forum upaya itu tidaklah sederhana. Masih ada deg-degannya.

Tapi karena pertanyaan saya itu singkat saja, maka deg-degannya cepat berlalu.

2. Melakukan yang lebih menantang

Ibarat latihan angkat beban, setelah terbiasa dengan beban yang ringan, kita mesti mencoba mengangkat beban yang lebih berat. Tujuannya agar kemampuan kita mengangkat beban jadi meningkat.

Setelah menjadi nyaman dan rileks dengan bertanya hal-hal yang mudah, saya tantang diri saya untuk bertanya pertanyaan-pertanyaan yang lebih sulit. Misalnya: “Pak Dosen, tadi dijelaskan bahwa C itu begini sedangkan kita tahu D itu begitu. Mengapa bisa demikian, Pak?”

Pertanyaan ‘mengapa’ tidak semudah pertanyaan ‘apa’. Ia memerlukan penjelasan dan tentunya waktu lebih lama untuk memikirkan dan menyampaikannya. Dan ini bagi saya lebih menantang.

3. Sering-sering melakukannya

Latihan angkat beban tidak bisa hanya sekali, dua kali, lalu selesai. Untuk menjadi kuat dan fit, kita mesti melakukannya sering-sering. Semakin sering latihan, semakin kuatlah kita.

Untuk menjadi percaya diri saat berbicara pun demikian. Setelah merasa nyaman dengan menanyakan pertanyaan mudah dan pertanyaan sulit, saya berupaya melakukannya sering-sering. Ini untuk membentuk kebiasaan. Saya percaya bahwa semakin saya terbiasa maka semakin percaya dirilah saya.

Happy ending atau sad ending?

Akhirnya upaya-upaya saya itu membawa hasil. Saya pernah sampai berani ambil peran untuk membawakan presentasi dalam satu mata kuliah. Meski punggung saya tetap basah kuyup karena grogi, tapi presentasi itu tersampaikan sesuai rencana.

Bahkan di tahun berikutnya pun saya akhirnya berhasil menjadi pemandu untuk pelatihan bagi adik-adik mahasiswa baru. Hal yang saya impikan akhirnya menjadi kenyataan.

Namun, entah saya berhasil tebar pesona atau tidak, yang jelas sampai saya lulus kuliah pun saya tidak pernah memunyai pacar adik kelas.

Itulah sekelumit kisah saya yang awalnya takut menjadi berani berbicara di depan umum. Semoga Anda bisa mengambil manfaat darinya.

Untuk mendapatkan update terbaru mengenai artikel saya, silakan masukkan nama dan alamat email Anda di kolom berikut ini.

 

Photo by Marcos Luiz Photograph on Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *