Surja Wahjudianto

Buat Presentasi Anda Lebih Didengar

Inilah 3 Elemen Cerita yang Harus Diketahui Semua Pembicara

Because everybody loves a good story, if you want to sell your product to customers, your vision to to investors, or your ideas to the world, you’ve got to recognize the power and importance of great storytelling.” ~Dave Kerpen

Karena semua orang sangat menyukai cerita, jika Anda mau menjual produk Anda kepada pelanggan, visi Anda kepada investor, ide Anda kepada dunia, Anda mesti memahami kekuatan dan pentingnya kemampuan bercerita.” ~Dave Kerpen

Pernah suatu kali saat saya memberikan pelatihan presentasi, saya meminta seorang peserta untuk membuat satu cerita dan dipresentasikan. Peserta tersebut membuat ceritanya seperti ini:

Korupsi tampaknya semakin hari semakin masif. Yang terlibat melakukannya tidak hanya pejabat pusat yang selama ini sering terjadi. Kini, seperti yang sering kita lihat di TV, pejabat daerah pun semakin banyak yang tertangkap tangan melakukan korupsi. Untuk mengatasi ini mau tidak mau masyarakat harus bahu membahu, bergandengan tangan dan bersatu padu mengawal perjuangan memberantas korupsi ini.”

Saya katakan padanya bahwa naskah di atas bukanlah cerita. Itu lebih merupakan sebuah argumentasi atau eksposisi. Bukan narasi.

Setelah saya berikan teorinya, saya memintanya untuk memperbaiki naskahnya. Setelah selesai saya memintanya untuk mempresentasikannya lagi. Dan kali kedua itu dia melakukannya lebih baik.

Berikut contoh bagaimana suatu cerita seharusnya. 

Saya punya teman yang dikenal sebagai orang yang baik dan santun. Sebut saja namanya Mr X. Saat kuliah dulu tidak ada cerita negatif tentang dia. Orangnya ramah dan menyenangkan. Ketaatan beragamanya pun terbilang oke.

Nilai akademisnya di kampus juga terbilang lumayan dan dia sering jadi jujugan teman untuk bertanya. Dia juga termasuk mahasiswa yang lumayan aktif mengikuti kegiatan mahasiswa. Meski tidak pernah menjadi ketua, peranan dan bantuannya di organisasi mahasiswa cukup terasa.

Suatu hari saya terkejut setengah mati saat membaca koran tentang penyelewengan dana di satu perusahaan swasta. Saya membaca namanya disebut-sebut sebagai orang yang terlibat dalam kasus tersebut. Saya tidak begitu saja percaya bahwa itu adalah teman saya.

Saya mencoba menelusuri berita di internet tentang kasus tersebut. Dari beberapa penelusuran saya dapatkan foto, kantor pelaku, jabatan pelaku, rumah tinggal pelaku, dan sebagainya. Dari pencarian saya tersebut semua petunjuknya memang mengarah ke dia. Tapi saya tidak begitu saja percaya.

Sampai suatu hari saya bertemu dengan mantan teman kerja di kantor saya dahulu. Kebetulan dia bertetangga dekat dengan Mr X ini. Dia bercerita bahwa Mr X teman saya kuliah itu tidak pernah lagi kelihatan di kompleks perumahan dimana dia tinggal. Kini dia ditahan polisi karena kasus korupsi.

Saya benar-benar tidak menyangka bahwa seseorang yang dulu dikenal baik dan ramah bisa terlibat kasus korupsi.”

Note: Khusus yang ini adalah cerita karangan saya sendiri, fiktif belaka.

Itulah suatu cerita. Suatu teks dikatakan sebagai sebuah cerita jika dia memenuhi 3 kriteri berikut:

1. Pengenalan

2. Permasalahan

3. Penyelesaian

atau disingkat dengan 3P.

Mari kita bahas satu per satu.

1. Pengenalan

Di tahap ini Anda mengenalkan tokoh-tokoh yang terlibat dalam adegan cerita. Tokoh utama dari cerita ini bisa diri Anda sendiri atau orang lain.

Di sini juga Anda jelaskan latar belakang dari cerita itu. Kapan dan dimana terjadinya.

Dalam contoh di atas pengenalannya adalah berikut ini:

Saya punya teman yang dikenal sebagai orang yang baik dan santun. Sebut saja namanya Mr X. Saat kuliah dulu tidak ada cerita negatif tentang dia. Orangnya ramah dan menyenangkan. Ketaatan beragamanya pun terbilang oke.

Nilai akademisnya di kampus juga terbilang lumayan dan dia sering jadi jujugan teman untuk bertanya. Dia juga termasuk mahasiswa yang lumayan aktif mengikuti kegiatan mahasiswa. Meski tidak pernah menjadi ketua, peranan dan bant uannya di organisasi mahasiswa cukup terasa.”

2. Permasalahan

Permasalahan adalah tahapan yang penting. Cerita menjadi menarik hanya karena ada permasalahan. Tanpanya cerita menjadi kering dan hambar.

Permasalahan bisa dibangun dengan mempertentangkan tokoh utamanya dengan pihak lain. Pihak lain ini bisa berupa manusia, binatang, alam, masyarakat, lingkungan, teknologi, dsb.

Misalnya cerita mengenai diri saya yang gugup saat berbicara dalam forum diskusi kelas saat SMA adalah bentuk permasalahan antara manusia dengan diri sendiri.

Dalam contoh yang saya berikan di atas permasalahan adalah di bagian ini:

Suatu hari saya terkejut setengah mati saat membaca koran tentang penyelewengan dana di satu perusahaan swasta. Saya membaca namanya disebut-sebut sebagai orang yang terlibat dalam kasus tersebut. Saya tidak begitu saja percaya bahwa itu adalah teman saya.

Saya mencoba menelusuri berita di internet tentang kasus tersebut. Dari beberapa penelusuran saya dapatkan foto, kantor pelaku, jabatan pelaku, rumah tinggal pelaku, dan sebagainya. Dari pencarian saya tersebut semua petunjuknya memang mengarah ke dia. Tapi saya tidak begitu saja percaya.”

3. Penyelesaian

Cerita yang baik ada penyelesaian dari masalah yang ada. Penyelesaian membuat cerita jadi komplit. Audiens jadi puas mengikuti jalan ceritanya. Entah penyelesaiannya itu berakhir dengan bahagia atau berakhir dengan sedih yang penting selesai.

Di penyelesaian ini biasanya disebutkan moral dari cerita tersebut. Nilai-nilai apa yang bisa dipelajari dari kisah yang telah dipaparkan sebelumnya.

Berikut bagian penyelesaian dari contoh di atas:

Sampai suatu hari saya berte mu dengan mantan teman kerja di kantor saya dahulu. Kebetulan dia bertetangga dekat dengan Mr X ini. Dia bercerita bahwa Mr X teman saya kuliah itu tidak pernah lagi kelihatan di kompleks perumahan dimana dia tinggal. Kini dia ditahan polisi karena kasus korupsi.

Saya benar-benar tidak menyangka bahwa seseorang yang dulu dikenal baik dan ramah bisa terlibat kasus korupsi.”

Itulah 3 elemen cerita yang bisa Anda terapkan dalam presentasi Anda berikutnya.

Untuk menutup artikel ini, saya mau mengingatkan Anda tentang pentingnya kemampuan bercerita ini dengan sekali lagi mengutip Dave Kerpen:

Because everybody loves a good story, if you want to sell your product to customers, your vision to to investors, or your ideas to the world, you’ve got to recognize the power and importance of great storytelling.”

Apa cerita yang akan Anda sampaikan dalam presentasi Anda berikutnya?

Photo by Picsea on Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *