Surja Wahjudianto

Buat Presentasi Anda Lebih Didengar

Kita pun Perlu Belajar Bagaimana Menjadi Audiens yang Baik

Pernah dalam suatu acara pertemuan saya duduk bersebelahan dengan seorang wanita bule. Suasana ruangan tenang, tidak ada suara kecuali suara pembicara yang tengah membawakan presentasinya. Hadirin menyimak dengan penuh perhatian apa yang pembicara paparkan.

Pada satu kesempatan wanita bule tadi mendekatkan dirinya ke arah saya. Dengan meletakkan tangan kiri ke mulutnya dia membisikkan sesuatu ke telinga saya.

Dia membisikkannya dengan lembut dan hati-hati sekali. Saking hati-hatinya saya sendiri nyaris tidak bisa mendengarnya. Apalagi orang di sekitar saya, di depan-belakang atau kiri-kanan saya, tidak mungkin mereka bisa mendengar apa yang dikatakannya.

Apa yang dibisikkannya? Apakah itu hal yang sangat rahasia hingga dia begitu hati-hati sekali?

john-mark-kuznietsov-193849

Sama sekali bukan. Itu bukan rahasia.

Presentasi yang dibawakan oleh pembicara (orang Indonesia) dilakukan dalam bahasa Inggris, namun ada satu dua kata yang dilontarkan menggunakan bahasa Indonesia. Nah, wanita bule tadi hanya tanya istilah bahasa Indonesia yang diucapkan oleh pembicara tersebut.

Lha, lalu kenapa harus pakai bisik-bisik dengan hati-hati sekali?

Inilah satu hal yang luar biasa. Ini yang saya kagumi dari orang-orang bule. Mereka begitu menjunjung tinggi forum. Mereka menghormati pembicara dan menghargai hadirin lainnya.

Mereka tidak bercakap-cakap satu sama lain saat suatu presentasi atau pidato tengah berlangsung. Mereka tahu bahwa itu bisa mengganggu pembicara dan mengganggu hadirin lainnya. Kalaupun harus berbicara, mereka akan melakukannya dengan sangat singkat dan hati-hati sekali. Pendeknya, mereka lebih mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.

Setelah kejadian itu saya lalu ingat dan membandingkan dengan kebanyakan forum-forum yang pernah saya hadiri.

Dalam kebanyakan forum-forum itu audiens biasa berbicara satu sama lain saat presentasi tengah berlangsung. Tanpa merasa bersalah. Jadi seperti ada forum di dalam forum. Ada yang pembicaraannya sebentar-sebentar, ada juga yang pembicarannya cukup lama. Bahkan ada yang ngobrol!

Ada yang suaranya dilirihkan tapi tetap kedengaran oleh orang-orang sekelilingnya, tetapi banyak juga yang suaranya cukup keras sampai kedengaran oleh pembicara yang ada di depan. Duh!

Hal ini dianggap lumrah oleh sebagian besar orang.

Mereka tidak tahu atau lupa bahwa tindakan mereka itu sangat merugikan.

Yang pertama, merugikan mereka sendiri. Dengan berbicara sendiri mereka jadi melewatkan paparan yang disampaikan oleh pembicara.

Yang kedua, merugikan peserta yang lain. Peserta lain yang serius memperhatikan pembicara jadi terganggu dengan suara-suara percakapan mereka itu. Mereka juga bisa kelewatan poin-poin penting yang disampaikan pembicara.

Yang ketiga, merugikan pembicara. Pembicara juga bisa kehilangan konsentrasi yang akan mengacaukan jalannya presentasinya. Pembicara tipe tertentu bahkan bisa blank ditengah karena ada disrupsi tersebut.

Bayangkan betapa tidak enaknya saat Anda membawakan presentasi lalu Anda lihat ada beberapa orang yang berbicara sendiri-sendiri. Fakta bahwa tindakan mereka membuat Anda merasa tidak diperhatikan saja sudah menyesakkan dada. Apalagi kalau suara mereka sampai kedengaran oleh Anda yang berdiri di depan yang bisa membuat konsentrasi Anda buyar tambah membuat Anda serasa ingin meledak.

Sekarang saya menyadari mengapa dulu bapak/ibu guru di sekolah sering marah-marah saat murid-murid di kelas ada yang berbicara sendiri-sendiri. Saya juga jadi maklum mengapa dulu saat SMP saya sampai pernah dijewer oleh ibu guru dengan geregetan karena saya tidak memperhatikan dan ngobrol di kelas.

Entah kesalahan ini awalnya dari mana sehingga seperti menjadi budaya. Biarlah pakar sosiologi yang menjelaskan tentang itu. Yang bisa kita lakukan sekarang paling tidak kita bisa mengurangi frekuensi kejadian ini. Agar kondisi ini tidak semakin parah setidaknya kita tidak menjadi seperti mereka yang berbicara saat ada presentasi tengah berlangsung. Mari!

Photo by John-Mark Kuznietsov on Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *