Surja Wahjudianto

Buat Presentasi Anda Lebih Didengar

7 Jurus Cetar agar Presentasi Anda Didengar

Tolong jawab pertanyaan ini:

Seberapa sering Anda benar-benar mendengarkan suatu presentasi? Lebih banyak yang Anda dengarkan atau lebih banyak yang Anda abaikan?

Survei membuktikan bahwa kebanyakan presentasi (dan juga pidato, ceramah, kuliah, sambutan dan bentuk berbicara di depan umum lainnya) masih banyak yang perlu diperbaiki. Artinya presentasi (dan bentuk-bentuk lainnnya itu tadi) lebih banyak yang diabaikan daripada didengarkan.

Lalu apa dong yang mesti saya lakukan agar presentasi saya tidak termasuk yang diabaikan tadi?” Anda mungkin bertanya.

Berikut saya bagikan 7 jurus cetar agar presentasi Anda lebih didengar oleh audiens Anda:

1. Kredibilitas

Seorang pembicara mesti mempunyai kredibilitas untuk berbicara mengenai topiknya. Tanpa kredibilitas audiens tidak akan mau percaya atau mendengarnya.

Seorang tenaga penjual pemula dan tidak berprestasi tentu tidak punya kredibilitas untuk berbicara mengenai ‘Cara Menjual yang Efektif”. Tetapi tenaga penjual dengan segudang pengalaman dan banyak mencapai prestasi serta banyak menerima penghargaan akan didengar bila berbicara tentang topik itu.

Seorang ayah dengan keluarga yang harmonis, istri yang setia dan mencintai, dan anak-anak yang cerdas, sehat dan bahagia akan pantas didengar bila dia berbicara mengenai topik parenting. Sebaliknya seorang ayah dengan anak-anak yang kurang sehat dan kurang bahagia serta kerap bermasalah di sekolah tentu diragukan kemampuannya bila berbicara dengan topik yang sama.

Kredibilitas seorang pembicara dibangun dari pengetahuan, keterampilan dan pengalaman.

2. Gairah untuk Berbagi

Seseorang yang mempunyai kredibilitas belum tentu bergairah untuk berbagi ilmunya. Seorang doktor ilmu hukum belum tentu benar-benar berminat dan bergairah berbicara mengenai topik-topik seputar hukum.

Antusiasme itu menular. Kalau seorang pembicara tidak antusias atau bergairah dengan ilmunya tentu audiens juga tidak bergairah untuk mendengar atau mengikutinya.

Maka dari itu gairah untuk berbagi ini mutlak diperlukan agar seorang pembicara benar-benar didengarkan.

3. Peduli kepada audiens

Seorang pembicara mesti memiliki kepedulian yang tulus pada audiens. Hal ini karena kepedulian itu sifatnya timbal balik. Jika pembicara benar-benar peduli kepada audiens maka audiens juga akan peduli kepada pembicara dan bersedia mendengarkan pembicara.

Kepedulian ini bisa jadi tidak terlihat, tetapi pasti bisa dirasakan oleh audiens. Pembicara yang peduli kepada audiens mengarahkan fokusnya kepada kepentingan audiens. Mereka benar-benar memikirkan apa yang audiens akan dapatkan dari presentasinya.

Sementara, pembicara yang tidak peduli akan banyak memikirkan tentang dirinya sendiri. Dia terlalu sibuk memikirkan tentang penampilannya sendiri. Kosa katanya yang dominan adalah ‘aku, aku dan aku’, bukannya ‘anda, anda, dan anda.” Pembicara seperti ini tentu sulit untuk mendapat perhatian dan didengarkan audiens.

4. Cerita

Cerita adalah elemen dalam presentasi yang bisa secara dramatis meningkatkan kualitas presentasi Anda. Namun sayangnya penggunaan cerita ini kerap diabaikan dan disepelekan.

Padahal semua orang suka cerita. Cerita membuat presentasi Anda jadi menarik. Ini menjadikan audiens betah berlama-lama mendengarkan presentasi Anda.

Cerita juga membuat pesan Anda lebih mengena dan lebih masuk dalam benak audiens. Apalagi jika mereka bisa mengaitkan cerita tersebut dengan kehidupan prbadinya.

Cerita juga menjadikan pesan-pesan Anda bisa diingat dalam jangka lama. Bukankah Anda masih ingat cerita atau dongeng yang Anda dengar waktu masih kecil, padahal itu sudah berpuluh-puluh tahun yang lalu? Itulah kehebatan suatu cerita.

Gunakan cerita agar pesan anda lebih kena dan diingat untuk jangka waktu yang sangat lama.

5 Kontak mata

Saya pernah melihat khotib sholat Jumat yang saat menyampaikan khotbahnya tidak pernah menatap audiens (jamaah) sama sekali. Dia lebih sering melihat langit-langit dan sesekali melirik catatannya sepanjang jalannya khotbah. Seolah-olah dia berbicara kepada langit-langit bukannya kepada jamaah. Bisa ditebak kalau khotbahnya jadi kurang didengar meski isinya sebetulnya menarik dan penting.

Kontak mata membangun keterhubungan pembicara dengan audiens. Kontak mata ibarat sinyal dalam hubungan telepon seluler. Jika sinyalnya buruk maka sambungan telepon jadi terputus-putus. Demikian juga dengan kontak mata. Jika kontak mata buruk maka keterhubungan pembicara dengan audiens juga buruk. Jika ini terjadi maka audiens tidak sepenuh hati mendengarkan sang pembicara.

6. Senyum

Senyuman juga merupakan elemen penting untuk menjalin keterhubungan dengan audiens disamping kontak mata. Senyuman menunjukkan Anda adalah orang yang percaya diri. Audiens menyukai dan mau mendengar pembicara yang percaya diri.

Senyuman juga menunjukkan Anda orang yang ramah dan nyaman dengan diri Anda sendiri. Audiens lebih bersedia mendengar dari pembicara yang ramah daripada pembicara yang mereka kira angkuh karena tidak pernah tersenyum.

7. Latihan

Practice. Practice. Practice. Begitulah bunyi nasehat yang sering kita dengar agar kita bisa tampil maksimal dan percaya diri dalam menyampaikan presentasi.

Meski kedengarannya ada nada bercanda tapi nasehat itu benar adanya. Latihan memungkinkan Anda lancar dan menjiwai dalam menyampaikan presentasi Anda. Jika Anda lancar dan menjiwai maka peluang Anda untuk didengarkan akan semakin besar.

Itulah 7 jurus cetar agar presentasi Anda didengarkan oleh audiens. Pastikan Anda mengingat 7 jurus ini dan secara konsisten menerapkannnya dalam presentasi-presentasi Anda berikutnya. Kalau suatu saat Anda terkejut dan terkesan dengan kemampuan presentasi Anda sendiri yang meningkat pesat, itu saatnya Anda membagikan 7 jurus ini kepada yang lain.

Pertanyaan:

Mana dari 7 rahasia ini yang paling Anda sukai dan tidak sabar segera Anda praktekkan? Bagikan pendapat Anda di kolom komentar berikut ini.

Picture source: https://pixabay.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *