Surja Wahjudianto

Buat Presentasi Anda Lebih Didengar

Ternyata Ini Hal yang Paling Disukai Audiens dari Suatu Presentasi

Saya yakin Anda terkejut dengan fakta ini. Ada banyak hal yang disukai audiens dari suatu presentasi. Tapi satu hal yang paling disukai audiens ternyata adalah… ketika presentasi itu usai!

Ya, Anda tidak salah baca. Ketika presentasi itu usai! Inilah paradoks dalam presentasi.

Kalau Anda menyangsikan kebenaran ini, coba lain kali ketika Anda hadir di suatu presentasi atau pidato, perhatikan perasaan Anda ketika pembicara mengakhiri presentasi atau pidatonya. Saya yakin saat itu adalah saat-saat yang paling menggembirakan bagi Anda.

Menariknya lagi, ini berlaku untuk semua presentasi. Baik presentasi dengan pembicara yang membosankan atau pembicara yang menarik, presentasi yang gratis atau berbayar, presentasi yang berbayar murah atau berbayar mahal.

Kalau pembicaranya membosankan, tentu semua audiens berharap agar dia cepat-cepat menyudahi presentasinya. Tidak ada audiens yang menyukai pembicara yang membosankan.

Kalau pembicaranya menarik pun sama, audiens juga akan gembira ketika pembicaranya menyudahi presentasinya dan turun dari panggung.

Mengapa?

Begini penjelasannya:

Bagiamanapun juga, mendengarkan suatu presentasi adalah suatu pekerjaan. Itu adalah tugas, entah tugas atas inisiatif pribadi atau tugas dari kantor. Melaksanakan tugas memerlukan tenaga. Dan segala hal yang memerlukan tenaga itu melelahkan.

Kalau pekerjaan yang melelahkan itu usai, maka puaslah Anda, gembiralah Anda. Para pakar motivasi mengatakan bahwa menuntaskan pekerjaan adalah salah satu sumber kegembiraan.

Nah, menghadiri dan mendengarkan presentasi yang penting dan menarik pun sama, ia merupakan pekerjaan. Audiens perlu berpikir dan konsentrasi. Berpikir dan konsentrasi ini melelahkan. Ketika pekerjaan yang melelahkan itu usai maka gembiralah mereka. Meskipun presentasi itu penting, berbayar mahal, dan pembicaranya terkenal, audiens tetap akan gembira ketika presentasi itu usai.

Tepuk tangan lebih meriah

Itulah mengapa umumnya tepuk tangan hadirin lebih meriah saat pembicara turun panggung dibandingkan saat pembicara naik panggung. Tepuk tangan hadirin saat pembicara turun panggung benar-benar tulus dan jujur. Mereka bertepuk tangan karena mereka benar-benar merasa gembira. Sedangkan tepuk tangan hadirin saat pembicara naik panggung masih ada basa-basinya.

Karena itu, saat Anda berkempatan untuk menjadi pembicara, kalau Anda berniat memberikan bonus kepada audiens berilah bonus dengan mempersingkat waktu presentasi Anda, bukan dengan memperlamanya. Meskipun seandainya Anda adalah pembicara yang menarik, berilmu luas dan dicintai audiens.

Analogi

Ini ibarat memberikan seseorang makanan kesukaannya. Meski dia suka sekali makan gule kambing, tetapi kalau Anda memberinya kebanyakan sampai dia kekenyangan, maka gule kambing itu terasa eneg baginya. Padahal gule kambing adalah makanan favoritnya.

Tapi kalau Anda memberi porsi secukupnya dan berhenti sebelum dia kekenyangan, maka gule kambing itu tetap terasa lezat baginya, bahkan membuat dia makin ketagihan.

Karenanya, lain waktu Anda berkesempatan memberikan presentasi, pastikan presentasi Anda usai sebelum audiens merasa eneg dengannya. Sudahi presentasi Anda ketika ia masih ‘terasa lezat’ di benak audiens Anda. Ini akan memuat audiens ketagihan akan presentasi Anda. Karena:

Hal yang paling disukai audiens dari suatu presentasi adalah ketika presentasi itu usai.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *