Surja Wahjudianto

Buat Presentasi Anda Lebih Didengar

Derita yang Saya Syukuri

bersyukur-770x470Saya datang di pabrik semen di Jawa Barat itu dengan perasaan suka cita. Setelah mengikuti serangkaian tes seleksi yang ketat dan melelahkan, saya dinyatakan diterima. Keinginan untuk bekerja di perusahaan besar setelah lulus kuliah menjadi nyata. Saya gembira luar biasa.

Namun kegembiraan saya itu tidak bertahan lama. Saya diberitahu bahwa saya – bersama dengan 44 calon karyawan lainnya – harus mengikuti pelatihan yang dinamakan Latbintalsik (Latihan Pembinaan Mental dan Fisik). Menurut para senior yang telah menjalaninya, pelatihan ini sangat berat karena model pelatihannya ala militer dan dilatih langsung oleh para tentara aktif.

Ternyata benar. Baru di hari pertama saja kami sudah dibuat menderita. Pagi itu, setelah melaksanakan apel pagi pertama, kami para peserta disambut dengan ledakan bom. Benar-benar bom! Rupanya bom itu adalah isyarat bahwa pelatihan itu memang bakal tidak ramah kepada kami.

Sejak saat itu siksaan-siksaan fisik dan mental bertubi-tubi mendera kami. Push-up dan sit-up dengan hitungan semaunya instruktur adalah menu sehari-hari. Berguling-guling dan merayap di tanah dan kubangan adalah menu pendampingnya. Berjalan dan berlari dengan membawa beban berat di punggung juga santapan rutin lainnya. Itu semua kami lakukan tanpa memedulikan cuaca, entah di bawah terik sinar matahari atau pun di bawah hujan yang mengguyur. Tulang belulang kami terasa remuk karenanya.

Yang cukup menguji mental adalah kegiatan-kegiatan yang berbahaya dan mengancam keselamatan. Suatu kali kami pernah harus menuruni tebing curam dan terjal hanya dengan seutas tali tambang. Saat giliran saya tiba dan saya berdiri di bibir tebing, saya sungguh merasa ngeri saat melihat ke bawah. Saya membayangkan seandainya tali itu putus maka habislah riwayat saya.

Yang kerap membuat saya geram adalah aktifitas-aktifitas yang menurut saya ngawur dan bukan porsi orang sipil seperti kami. Pernah saat tengah malam, di kala kami terlelap tidur di dalam tenda, kami dibangunkan dengan ledakan bom. Saat kami dalam keadaan terkejut dan ketakukan, para instruktur menggebrak-gebrak tenda dan meneriaki kami untuk segera bangun, keluar tenda dan berbaris. Di bawah guyuran hujan rintik-rintik kami berbaris dengan menahan rasa kantuk dan hawa dingin. Yang membuat saya merinding ternyata kami yang sudah menggigil kedinginan itu disuruh melangkah ke dalam parit dengan air keruh setinggi pinggang orang dewasa. Saya mengumpat dan menghujat para instruktur tersebut. Dalam hati.

ptsc
Latbintalsik hari pertama, setelah peledakan bom itu.

Parahnya lagi, pelatihan ini tidak hanya berlangsung selama satu atau dua hari, melainkan dua minggu. Empat belas hari. Duh!

Saya marah luar biasa dengan perlakuan itu. Saya tidak melihat adanya manfaat apapun dari kegiatan tersebut kecuali kesengsaraan. Saya tidak habis pikir mengapa ada petinggi perusahaan bisa membuat program sekonyol itu. Buat apa mereka menghambur-hamburkan anggaran yang sangat besar hanya untuk membuat karyawannya sengsara?

Tapi saya tidak bisa berbuat apa-apa. Saya mesti bertahan. Itu adalah pekerjaan pertama saya dan saya ingin menyenangkan hati orang tua saya.

Akhirnya saya bertahan. Tapi saya bertahan dengan memendam rasa benci. Saya benci instruktur-instruktur itu. Saya benci komandan mereka. Saya benci para petinggi perusahaan yang menggagas pelatihan tersebut. Rasa benci itu saya bawa sampai bertahun-tahun kemudian, bahkan sampai saya keluar dari perusahaan itu.

Titik balik

Lama setelah itu baru saya menyadari arti penting dari derita yang saya alami di pelatihan tersebut. Butuh waktu cukup lama bagi saya untuk menyadari bahwa saya sebenarnya telah mendapat satu anugerah besar dengan mengikuti pelatihan itu.

Kini setiap mengenang peristiwa itu saya justru bersyukur. Saya merasa perlu berterima kasih kepada instruktur-instruktur tersebut dan komandan mereka. Saya juga mesti berterima kasih kepada petinggi perusahaan yang menggagas program pelatihan itu. (Semoga kehidupan mereka kini bahagia dan mulia. Untuk mereka yang telah tiada, semoga mereka mendapat tempat yang layak di sisiNya).

Mengapa saya justru berterima kasih setelah dibuat menderita?

Berikut 3 alasan mengapa saya bersyukur atas derita yang saya alami di Latbintalsik tersebut:

1. Imunisasi mental
Imunisasi adalah secara sengaja memberikan penyakit kepada pasien agar pasien kebal terhadap penyakit tertentu di kemudian hari. Meski dengan imunisasi tersebut pasien akan mengalami sakit namun sakitnya hanya sementara, sedangkan kekebalannya bertahan lama, bahkan seumur hidup.

Kesengsaraan yang kami terima di Latbintalsik itu juga merupakan imunisasi. Imunisasi mental. Perusahaan secara sengaja ‘menyuntikkan penyakit’ kepada kami agar kami kebal terhadap ‘penyakit’ tersebut di masa yang akan datang. ‘Penyakit’ yang disuntikkan adalah siksaan-siksaan fisik dan mental yang kami terima.

‘Sakit’ yang kami alami hanya sementara, tetapi manfaat yang kami rasakan bisa sampai bertahun-tahun kemudian, bahkan sampai seumur hidup kami. Kami menjadi pribadi-pribadi yang lebih tangguh dalam menghadapi cobaan kehidupan.

2. Prestasi pribadi
Mengikuti dan lulus Latbintalsik bagi saya merupakan prestasi. Prestasi besar. Pelatihan itu telah membuat saya sangat sengsara, dari awal hingga akhir. Butuh semangat dan tekad yang kuat untuk terus menjalaninya. Dan kenyataan bahwa saya akhirnya sanggup menyelesaikannya merupakan pencapaian yang akan saya kenang sepanjang masa.

Butuh motivasi yang luar biasa besar untuk bersedia mendapat perlakuan keras dalam pelatihan itu. Bagi saya motivasi terbesar adalah orang tua saya. Saya hanya ingin menyenangkan hati kedua orang tua saya yang telah membesarkan dan mendidik saya. Tanpa motivasi itu saya telah undur diri sejak awal.

3. Referensi masalah
Kita tidak akan lepas dari masalah dan cobaan dalam hidup. Dulu, kini dan nanti. Mereka yang ‘berpengalamanlah’ yang bisa menjalani dan melewati masalah dan cobaan dengan apik.

Kini ketika saya menghadapi masalah, saya seringkali menjadikan pengalaman Latbintalsik itu sebagai referensi. Saya membayangkan seberapa berat masalah yang saya hadapi saat ini dibandingkan dengan masalah yang saya alami dulu di Latbintalsik. Lalu saya bilang kepada diri saya sendiri:

“Kalau kamu dulu bisa kuat dan berhasil melewati Latbintalsik yang super berat itu, masak masalah begini saja kamu tidak sanggup?”

Upaya ini sungguh membantu. Saya kerap kali merasa lebih ringan dalam menyelesaikan masalah besar karena saya pernah mengalami masalah yang juga besar di masa lalu. Latbintalsik itu.

Itulah kisah saya mengikuti Latbintalsik yang dulu saya benci yang akhirnya malah saya syukuri. Kini giliran Anda yang berbagi kisah.

Pertanyaan: apa cobaan berat yang pernah Anda alami di masa lalu? Apakah hikmah yang Anda petik dari peristiwa itu?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *